SOROGAN APALAN JAMA'AH KANTI ISTIQOMAH

Tampilkan postingan dengan label sejarah islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Maret 2018

BIOGRAFI SYAIKH NAWAWI AL-BANTANI AL-JAWI


Nama lengkapnya adalah Abu Abdul Mu’ti Muhammad bin Umar bin Arbi bin Ali Al-Tanara Al-Jawi Al-Bantani. Ia lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani. Dilahirkan di kampung Tanara, kecamatan Tirtayasa, kabupaten Serang, Banten. Pada tahun 1813 M atau 1230 H. Ayahnya bernama Kyai Umar, seorang pejabat penghulu yang memimpin masjid. Dari silsilahnya, Nawawi merupakan keturunan kesultanan yang ke 12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon), yaitu keturunan dari Putra Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I) yang bernama Sunyara-ras (Tajul ‘Arsy). Nasabnya bersambung dengan Muhammad melalui Imam Ja’far Assidiq, Imam Muhammad Al-Baqir, Imam Ali ZainAl-Abidin, Sayyidina Husain, Fatimah Al-Zahra

PERJALANAN INTELEKTUAL
Pada usia lima tahun Syekh Nawawi belajar langsung dibawah asuhan ayahandanya. Di usia yang masih kanak-kanak ini, beliau pernah bermimpi ber-main dengan anak-anak sebayanya di sungai, karena merasakan haus ia meminum air sungai tersebut sampai habis. Namun, rasa dahaganya tak kunjung surut. Maka Nawawi bersama teman-temannya beramai-ramai pergi ke laut dan air lautpundiminumnya seorang diri hingga mengering.
Ketika usianya memasuki delapan tahun, anak pertama dari tujuh bersaudara itu memulai peng-gembaraannya mencari ilmu. Tempat pertama yang dituju adalah Jawa Timur. Namun sebelum berangkat, Nawawi kecil harus menyanggupi syarat yang diajukan oleh ibunya, “Kudo’akan dan kurestui kepergianmu mengaji dengan syarat jangan pulang sebelum kelapa yang sengaja kutanam ini berbuah.” Demikian restu dan syarat sang ibu. Dan Nawawi kecilpun menyanggupi-nya.
Maka berangkatlah Nawawi kecil menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu menuntut ilmu. Setelah tiga tahun di Jawa Timur, beliau pindah ke salah satu pondok di daerah Cikampek (Jawa Barat) khusus belajar lughat (bahasa) beserta dengan dua orang sahabatnya dari Jawa Timur. Namun, sebelum diterima di pondok baru tersebut, mereka harus mengikuti tes terlebih dahulu. Ternyata mereka ber-tiga dinyatakan lulus. Tetapi menurut kyai barunya ini, pemuda yang bernama Nawawi tidak perlu mengu-langi mondok. “Nawawi kamu harus segera pulang karena ibumu sudah menunggu dan pohon kelapa yang beliau tanam sudah berbuah.”Terang sang kyai tanpa memberitahu dari mana beliau tahu masalah itu.
Tidak lama setelah kepulangannya, Nawawi muda dipercaya yang mengasuh pondok yang telah dirintis ayahnya. Di usianya yang masih relatif muda, beliau sudah tampak kealimannya sehingga namanya mulai terkenal di mana-mana. Mengingat semakin banyaknya santri baru yang berdatangan dan asrama yang tersedia tidak lagi mampu menampung, maka kyai Nawawi berinisiatif pindah ke daerah Tanara Pesisir.
Pada usia 15 tahun, ia mendapat kesempatan un-tuk pergi ke Makkah menunaikan ibadah haji. Disana ia memanfaatkan waktunya untuk mempelajari bebe-rapa cabang ilmu, diantaranya adalah: ilmu kalam, bahasa dan sastra Arab, ilmu hadits, tafsir dan ilmu fiqh. Setelah tiga tahun belajar di Makkah ia kembali ke daerahnya tahun 1833 M dengan khazanah ilmu keagamaan yang relatif cukup lengkap untuk mem-bantu ayahnya mengajar para santri.
Namun hanya beberapa tahun kemudian ia memutuskan berangkat lagi ke Makkah sesuai dengan impiannya untuk mukim dan menetap di sana. Di Makkah ia melanjutkan belajar ke guru-gurunya yang terkenal. Pertama kali ia mengikuti bimbingan dari Syekh Khatib Sambas (Penyatu Thariqat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Indonesia) dan Syekh Abdul Gani Bima, ulama asal Indonesia yang bermukim di sana. Setelah itu belajar pada Sayyid Ahmad Dimyati, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan2yang keduanya di Makkah. Sedang di Madinah, ia belajar pada Syekh Muhammad Khatib Al-Hambali. Kemudian pada tahun 1860 M. Nawawi mulai mengajar di lingkungan Masjid Al-Haram. Prestasi mengajarnya cukup me-muaskan, karena dengan kedalaman pengetahuan agamanya, ia tercatat sebagai syekh disana. Pada tahun 1870 M, kesibukannya bertambah, karena ia harus banyak menulis kitab. Inisiatif menulis banyak datang dari desakan sebagian koleganya dan para sahabatnya dari Jawa. Kitab-kitab yang ditulisnya sebagian besar adalah kitab-kitab komentar (syarh) dari karya-karya ulama sebelumnya yang populer dan dianggap sulit dipahami. Alasan menulis syarh selain karena permin-taan orang lain, Nawawi juga berkeinginan untuk melestarikan karya pendahulunya yang sering meng-alami perubahan (ta’rif) dan pengurangan.
Dalam menyusun karyanya Syekh Nawawi selalu berkonsultasi dengan ulama-ulama besar lainnya, sebelum naik cetak naskahnya terlebih dahulu dibaca oleh mereka. Karya-karya beliau cepat tersiar ke berbagai penjuru dunia karena karya-karya beliau mudah difahami dan padat isinya. Nama Nawawi bahkan termasuk dalam kategori salah satu ulama besar di abad ke 14 H./19 M. Karena kemasyhurannya beliau mendapat gelar: Sayyid Ulama Al-Hijaz, Al-Imam Al-Muhaqqiq wa Al-Fahhamah Al-Mudaqqiq, A’yan Ulama Al-Qarn Al-Ram Asyar li Al-Hijrah, Imam Ulama’ Al-Haramain.
Syekh Nawawi cukup sukses dalam mengajar murid-muridnya, sehingga anak didiknya banyak yang menjadi ulama kenamaan dan tokoh-tokoh nasional Islam Indonesia, diantaranya adalah: Syekh Kholil Bangkalan, Madura, KH. Hasyim Asy’ari dari Tebu Ireng Jombang (Pendiri Organisasi NU), KH. Asy’ari dari Bawean, KH. Tubagus Muhammad Asnawi dari Caringin Labuan, Pandeglang Banten, KH. Tubagus Bakri dari Sempur-Purwakarta, KH. Abdul Karim dari Banten.

SYEKH NAWAWI BANTEN SEBAGAI MAHAGURU SEJATI
Nama Syekh Nawawi Banten sudah tidak asing lagi bagi umat Islam Indonesia. Bahkan kebanyakan orang menjulukinya sebagai Imam Nawawi kedua. Imam Nawawi pertama adalah yang membuat Syarah Shahih Muslim, Majmu’ Syarhul Muhadzab, Riyadhus Sholihin dan lain-lain. Melalui karya-karyanya yang tersebar di Pesantren-pesantren tradisional yang sampai sekarang masih banyak dikaji, nama kyai asal Banten ini seakan masih hidup dan terus menyertai umat memberikan wejangan ajaran Islam yang menyejuk-kan. Di setiap majelis ta’lim karyanya selalu dijadikan rujukan utama dalam berbagai ilmu, dari ilmu tauhid, fiqh, tasawuf sampai tafsir. Karya-karyanya sangat terkenal.
Di kalangan komunitas pesantren Syekh Nawawi tidak hanya dikenal sebagai ulama penulis kitab, tapi juga mahaguru sejati (the great scholar). Nawawi telah banyak berjasa meletakkan landasan teologis dan batasan-batasan etis tradisi keilmuan di lembaga pendidikan pesantren. Ia turut banyak membentuk keintelektualan tokoh-tokoh para pendiri pesantren yang sekaligus juga banyak menjadi tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Apabila KH. Hasyim Asy’ari sering disebut sebagai tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya NU, maka Syekh Nawawi adalah guru utamanya. Di sela-sela pengajian kitab-kitab karya gurunya ini, seringkali KH. Hasyim Asy’ari bernostalgia bercerita tentang kehidupan Syekh Nawawi, kadang mengenangnya sampai meneteskan air mata karena besarnya kecintaan beliau terhadap Syekh Nawawi.

GORESAN TINTA SYEKH NAWAWI
Di samping digunakan untuk mengajar kepada para muridnya, seluruh kehidupan beliau banyak dicurahkan untuk mengarang beberapa kitab besar sehingga tak terhitung jumlahnya. Konon saat ini masih terdapat ratusan judul naskah asli tulisan tangan Syekh Nawawi yang belum sempat diterbitkan.
Kitab-kitab karangan beliau banyak yang di-terbitkan di Mesir, seringkali beliau hanya mengirim-kan manuskripnya dan setelah itu tidak memperduli-kan lagi bagaimana penerbit menyebarkan hasil karyanya, termasuk hak cipta dan royaltinya, selanjutnya kitab-kitab beliau itu menjadi bagian dari kurikulum pendidikan agama di seluruh pesantren di Indonesia, bahkan Malaysia, Filipina, Thailand dan juga negara-negara di Timur Tengah. Menurut Ray Salam T. Mangondana, peneliti di Institut Studi Islam, Universitas of Philippines, ada sekitar 40 sekolah agama tradisional di Filipina yang menggunakan karya Nawawi sebagai kurikulum belajarnya. Selain itu Sulaiman Yasin, dosen di Fakultas Studi Islam Universitas Kebangsaan di Malaysia juga menggunakan karya beliau untuk mengajar di kuliahnya. Pada tahun 1870 para ulama universitas Al-Azhar Mesir pernah mengundang beliau untuk memberikan kuliah singkat di suatu forum diskusi ilmiah. Mereka tertarik untuk mengundang beliau, karena sudah dikenal di seantero dunia.
Diantara karya-karyanya adalah:
1.    Muraqah As-Su’ud At-Tashdiq; komentar dari kitab Sulam At-Taufiq.
2.    Nihayatuz Zain; komentar dari kitab Qurratul ‘Ain.
3.    Tausiyah ‘Ala Ibn Qasim; komentar dari kitab Fathul Qarib.
4.    Tijan Ad-Durari; komentar dari kitab Risalatul Baijuri.
5.    Tafsir Al-Munir; yang dinamai Marahi Labidi Li Kasyfi Ma’ani Al-Qur’an Al-Majid.
6.    Sulamul Munajat; komentar dari kitab Safinatus Sholat.
7.    Nurudz Dzalam; komentar dari kitab Aqidatul Awam.
8.    Kasyfatus Saja; komentar dari kitab Safinah An-Naja.
9.    Muraqil Ubudiyyah; komentar dari kitab Bidayatul Hidayah.
10. Uqudul Lujjain fi Bayaniz Zaujain; sebuah kitab yang berisikan tuntutan membangun rumah tangga.
11. Bahjatul Wasa’il; komentar dari kitab Risalatul Jami’ah.
12. Madarij as-Shu’ud; komentar dari kitab Maulid Barjanzi.
13. Salalimul Fudlala’; yang dinilai dengan, Hidayatul Adzkiya.
14. Ats-Tsamarul Yani’ah; komentar dari kitab Riyadhul Badi’ah.
15. Nashailul ‘Ibad; kitab yang berisi nasehat-nasehat para ahli ibadah.
Syeikh Nawawi menghembuskan nafas terakhir di usia 84 tahun, tepatnya pada tanggal 25 Syawal 1314 H. atau 1897 M. Beliau dimakamkan di Ma’la dekat makam Siti Khadijah, Ummul Mukminin istri Rasulullah SAW. Beliau sebagai tokoh kebanggaan umat Islam di Jawa khususnya di Banten, umat Islam di desa Tanara, Tirtayasa Banten setiap tahun di hari Jum’at terakhir bulan Syawal selalu diadakan acara haul untuk memperingati jejak peninggalan Syekh Nawawi Banten.

KAROMAH-KAROMAH SYEKH NAWAWI AL-BANTANI
1.    Pada suatu malam Syekh Nawawi sedang dalam perjalanan dari Makkah ke Madinah. Beliau duduk di atas ‘sekedup’ onta atau tempat duduk yang berada di punggung onta. Dalam perjalanan di malam hari yang gelap gulita ini, beliau mendapat inspirasi untuk menulis dan jika insipirasinya tidak segera diwujudkan maka akan segera hilang dari ingatan, maka berdo’alah ulama ‘alim allamah ini,“Ya Allah, jika insipirasi yang Engkau berikan malam ini akan bermanfaat bagi umat dan Engkau ridhai, maka ciptakanlah telunjuk jariku ini menjadi lampu yang dapat menerangi tempatku dalam sekedup ini, sehingga oleh kekuasaan-Mu akan dapat menulis inspirasiku.” Ajaib! Dengan kekuasaan-Nya, seketika itu pula telunjuk Syekh Nawawi menyala, menerangi ‘sekedup’nya. Mulailah beliau menulis hingga selesai dan telunjuk jarinya itu kembali padam setelah beliau menjelaskan semua penulisan hingga titik akhir. Konon, kitab tersebut adalah kitab Maroqil Ubudiyah, komentar kitab Bidayatul Hidayah karangan Imam Al-Ghazali.
2.    Ketika tempat kubur Syekh Nawawi akan dibongkar oleh Pemerintah untuk dipindahkan tulang belulangnya dan liang lahatnya akan ditum-puki jenazah lain (sebagaimana lazim di Ma’la) meskipun yang berada di kubur itu seorang raja sekalipun. Saat itulah para petugas mengurungkan niatnya, sebab jenazah Syekh Nawawi (beserta kafannya) masih utuh walaupun sudah bertahun-tahun dikubur. Karena itu, bila pergi ke Makkah, insya Allah kita akan bisa menemukan makam beliau di pemakaman umum Ma’la. Banyak juga kaum muslimin yang mengunjungi rumah bekas peninggalan beliau di Serang Banten.
Syekh Nawawi Al-Bantani mampu melihat dan memperlihatkan Ka’bah tanpa sesuatu alatpun. Cara ini dilakukan oleh Syekh Nawawi ketika membetulkan arah kiblatnya Masjid Jami’ Pekojan Jakarta Kota (SEKARANG). 

Share:

Jumat, 02 Maret 2018

Biografi Pengarang Kitab Fathul Muin

syaikh zainuddin al-malibari

    Salah satu nama yang tidak asing bagi para pelajar mazhab Syafii. Itulah nama bagi pengarang kitab
Fathul Mu’in, sebuah kitab fiqih yang sangat populer bagi kalangan pelajar pertengahan. Kitab Fathul Muin merupakan kitab kurikulum tingkatan menengah di seluruh pesantren di Indonesia dan beberapa negara lainnya.


    Nama lengkap beliau adalah Syeikh Zainuddin Ahmad bin Qadhi Muhammad al-Ghazali bin Syeikh Zainuddin al-Makhdum Kabir bin Syeikh Qadhi Ali bin Syeikh Qadhi Ahmad al-Ma’bari Asy-Syafii al-Asy’ari al-Funnani al-Malaibari.
Beliau dilahirkan di Chombal dalam wilayah Malaibar atau yang sekarang dikenal dengan Kerala, negara bagian bagian barat daya. Dilahirkan tahun 938 H/1532 M.
Imam Zainuddin al-Malaibari berasal dari keluarga al-Makhdum, satu keluarga yang diperkirakan sampai ke Malaibar, India pada abad ke 7 H/15 M. Keluarga ini didirikan oleh Syeikh Qadhi Zainuddin Ibrahim Ahmad yang merupakan paman dari Syeikh Zainuddin Kabir, sang kakek. Keluarga al-Makhdum menjadi panutan bagi masyarakat Ponnan dan Malaibar secara menyeluruh, bukan hanya bagi umat Islam tetapi juga menjadi panutan bagi masyarakat yang bukan muslim. Keluarga la-Makhdum memiliki peran yang besar dalam penyebaran ilmu agama dan ilmu Arabiyah di Negri India. Sampai sekarang keluarga al-Makhdum dikenal sebagai keluarga yang penuh dengan ilmu fiqh, dakwah dan adab. Menurut ahli sejarah, asal usul keluarga al-makhdum berasal dari Negri Yaman. Mereka meninggalkan negrinya dalam rangka berdakwah hingga sampai ke Negri Malaibar.

Sebagian kalangan yang menuliskan biografi beliau, seperti Imam al-Laknawi dalam kitab Nazhatul Khawatir, Syeikh Umar Ridha dalam kitab Mu’jam Muallifin, dan Az-Zarkaly dalam kitab al-A’lam, menyebutkan nama ayah beliau adalah Syeikh Abdul Aziz al-Malaibar. Namun nama ayah beliau yang sebenarnya sebagaimana beliau tulis sendiri dalam kitab beliau al-Ajwibah al-Ajibah ‘an As`ilah al-Gharibah adalah Syeikh Muhammad al-Ghazali. Sedangkan Syeikh Abdul Aziz sendiri merupakan paman Syeikh Zainuddin ini.
Ayah beliau, Syeikh Muhammad al-Ghazali merupakan seorang ulama yang wara’ dan masyhur, ahli dalam ilmu hadits, tafsir dan kalam dan merupakan qadhi di Malaibar Selatan, dan juga merupakan pendiri mesjid jamik Chombal. Ibu beliau juga merupakan seorang wanita shalihah yang berasal dari keluarga yang dikenal keshalihannya.
Kakek beliau yang juga bernama Zainuddin - sehingga dikenal dengan Syeikh Zainuddin Kabir sedangkan cucu beliau dengan Zainuddin Saghir - sangat mencintai ulama sufi terlebih lagi Imam Ghazali, sehingga beliau menamai salah satu anaknya dengan nama Muhammad al-Ghazali yang merupakan ayah dari Syeikh Zainuddin. Kakek beliau memiliki banyak karangan. Salah satunya adalah Nadham dalam ilmu akhlak, Hidayah Atqiya` yang kemudian disyarah oleh anak beliau Syeikh Abdul Aziz al-Makhdumi dengan nama Maslak al-Atqiya wa Manhaj al-Ashfiya, disyarah oleh Saiyid Abu Bakar Syatha dengan nama Kifayatul Atqiya wa Manhaj al-Ashfiya dan juga disyarah oleh ulama Nusantara, Syeikh Nawawi al-Bantani dengan nama Sulam Fudhala’ li Khatimah Nubala`.  Syeikh Zainuddin Kabir juga mengarang nadham yang mengajak umat dan para raja berjihad melawan kafir Portugis.
Syeikh Zainuddin Shagir Memulai membaca ilmu dasar-dasar dalam agama kepada ayahanda dan ibunda beliau. Kemudian beliau menuju ke daerah Ponnan untuk belajar kepada paman beliau Syeikh Abdul Aziz yang mengajar di Mesjid Jamik di sana.

Imam Zainuddin al-Malaibari tidak mencukupkan perjalanan ilmiyah beliau hanya di negrinya saja, namun beliau memperluas rihlah ilmiyah beliau hingga mencapai jazirah Arab dan Hijaz sambil menunaikan ibadah haji dan umrah. Beliau menetap dalam waktu lebih kurang 10 tahun dan berguru kepada beberapa ulama besar di tanah Haramain. Di antara guru-guru beliau di Haramain adalah;


  1.  Syeikhul islam ibnu hajjar al-haitami merupakan guru yang paling beliau cintai sehingga dalam kitab Fathul Muin beliau menyebutkan kata “syaikhuna/guku kami” secara mutlak untuk Ibnu Hajar al-Haitami.
  2. Syeikh Islam Izzuddin Abdul Aziz Az-Zamzami
  3. Syeikhul Islam Abdurrahman bin Zayad, mufti Negri Hijaz dan Yaman
  4. Syeikh Islam Saiyid Abdurrahman ash-Shafawi
  5. Imam Zainul Abidin Abu Makarim Muhammad bin Tajul Arifin Abi Hasan ash-Shiddiqi al-Bakri, yang merupakan murid dari Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari.

Guru beliau, Syeikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami sangat mengagumi kecerdikan Imam Zainuddin. Para ahli sejarah menyebutkan bahwa Ibnu Hajar al-Haitami pernah mengunjungi Malaibar, India dan menetap beberapa waktu di Mesjid Jamik Ponnani tempat Syeikh Zainuddin mengajar.
Ketika beliau menetap di Haramain, beliau banyak menggunakan kesempatan untuk meminta fatwa kepada beberapa  ulama besar masa itu seperti kepada Syeikh Islam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ar-Ramli (w. 1004 H), Syeikh Muhammad Khatib asy-Syarbini (w. 979 H), Imam Abdullah Bamakhramah (w. 972 H), Imam Abdurrauf bin Yahya al-Makki yang juga murid dari Syeikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami. Pertanyan-pertanyan tersebut beliau kumpulkan dalam satu kitab yang beliau namakan dengan al-Ajwibah al-Ghaliyah fi al-As`ilah al-Gharibah.
Beliau mendapat talqin zikir jali dan khafi dari guru beliau Imam Muhammad bin Abi Hasan al-Bakri dan mengambil thariqat Qadiriyah dari beliau pada tahun 966 H/1587 M, tepat sebelum fajar hari jumat pada 10 Ramadhan.
Diantara ulama besar yang semasa dengan beliau dalam belajar adalah Syeikh Abu Bakar Salim al-Hadhrami, Syeikh Aidarus al-Ahmadiabadi, Imam Mula Ali Qari, Syeikh Ibnu Abdullah Saqqaf al-Hadhrami dll.

Santri-santri beliau.


Syeikh Zainuddin al-Malaibari merupakan salah satu pengkhadam Mazhab Syafii. Beliau mengajar ilmu syar’iyah dan ilmu Arabiyah di Mesjid Jamik Ponnani dalam masa 63 tahun. Dari halaqah beliau ini, lahirlah beberapa ulama besar, antara lain;
1.    Syeikh Abdurrahman al-Makhdum kabir al-Ponani
2.    Syeikh Jamaluddin bin bin Syeikh Usman al-Ma’bari al-Ponnani
3.    Syeikh Jamaluddin bin Syeikh Abdul Aziz al-Makhdum al-Ponnani
4.    Qadhi Usman Labba al-Qahiri
5.    Syeikh Qadhi Usman al-Qahiri
6.    dll

Karangan-karangan beliau.


    Selain mengajar, Syeikh Zainnuddin juga mengarang beberapa kitab dalam bahasa Arab. Di antara karya-karya beliau adalah;
1.    Irsyadul Ibad ila Sabil Rasyad, kitab yang berisi fiqh, aqidah dan tashawuf. Dalam kitab Fathul Mu’in, Syeikh Zainuddin sempat menyebutkan nama kitab Irsyadul Ibad ini.
2.    Ihkam Ahkam Nikah, kitab ini juga sempat beliau singguh dalam fathul muin pada awal kitab Nikah. Kitab ini pernah di cetak di Malaibar
3.    Qurratul ain bi muhimmat ad-din, yang merupakan matan dari Fathul Mu’in. Kitab ini disyarah oleh ulama Nusantara, Syeikh Nawawi al-Bantani dengan nama Nihayah al-Zain fi Irsyad al-Mubtadiin.
4.    Fathul Muin Syarh Qaurratul ain, kitab ini selesai dikarang tahun 982 H.
5.    Tuhfatul Mujahidin fi ba’dh akhbar Burtughaliyin, berisi tentang kelebihan berjihad dan sedikit sejarah kaum kafir di Malaibar dan sejarah perlawanan umat Islam terhadap penjajah Portugis, kitab ini selesai dikarang tahun 985 H. Kitab ini telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa dunia, sperti Inggris, Spanyol, Jerman, Prancis, Ceska, Persia, Urdu, Tamil, Gujarat dan kanada.
6.    Manhaj al-Wadhih syarah kitab beliau sendiri Ihkam Ahkam nikah, salah satu naskah manuskripnya ada di Universitas malik Suud Saudi Arabiya
7.    al-Ajwibah al-Ajibah ‘an As`ilah al-Gharibah
8.    Mukhtashar Syarah Shudur fi Ahwal al-mauta wal qubur Imam Suyuthi
9.    al-Jawahir fi Uqubah Ahli Kabair
10.    al-Fatawa al-Hindiyah

titel beliau dalam mazhab Syafii.

    Walaupun nama dan pendapat beliau tidak pernah disebut oleh ulama yang membahas seputar masalah perbedaan ulama muta`akhirin Syafii’iyah seperti Syeikh Sulaiman Kurdi, pengarang kitab Fawad Madaniyah fi man Yufta biqaulihi min Muta`akhiri Syafi’iyah, dimana beliau banyak menyebutkan tentang murid Ibnu Hajar al-Haitami yang lain seperti Syeikh Abdurrauf al-Makki, namun Syeikh Zainuddin al-Malaibary mendapat kedudukan yang besar dalam barisan ulama muta`akhirin Syafi`iyah. Hal ini dapat dilihat dari penerimaan dan pujian dari para ulama mazhab Syafii lain terhadap kitab beliau Fathul muin. Kitab Fathul muin dijadikan pelajaran di perbagai negara yang bermazhab Syafii seperti Mesir, India, Indonesia, Malaysia, Makkah, Madinah, Syam, Bagdad, Srilanka dll. Di Aceh, seluruh Dayah menggunakan kitab Fathul Muin dengan Hasyiah I’anah Thalibin sebagai kitab kurikulum setelah kitab Fathul Qarib dan Hasyiah al-Bajuri.
    Dalam kitab Fathul Muin, beliau lebih banyak cenderung kepada tarjih Imam Ibnu Hajar al-Haitami dari pada tarjih Imam Ramli.     Selain dikaji, kitab Fathul Muin juga di beri hasyiah oleh beberapa ulama, di antara hasyiahnya adalah;
1.    I’anathuth Thalibin karangan Saiyid Bakri Syatha. Kitab ini merupakan hasyiah dari fathul muin yang paling populer
2.    I’anathul musta’in syarh ‘ala Fathul muin karangan Syeikh Syahir Ali bin Ahmad bin Sa’id Bashabarin (wa. 1304 H)
3.    Tarsyihul mustafidin syarh ‘ala fath muin karangan Sayyid Alawi bin Saiyid Ahmad as-Saqqaf (w. 1335H/1916 M).
4.    Hasyiah ‘ala Fathul Muin karangan Maulana Ahmad asy-Syirazi al-Malaibari (w. 1326 H) terdiri atas 3 jilid
5.    Hasyiah ‘ala Fathul Muin karangan Syeikh Qanit Syihabuddin Ahmad Kuya asy-Syaliyati (w. 1374 H)
6.    Tansyith al-Muthali’in syarah ‘ala Fath Mu’in, karangan Syeikh Maulawi Ali bin Syeikh Arif billah Maulana Syeikh Abdurrahman an-Naqsyabandi at-Tanuri (w. 13347 H), belum sempurna.
7.    Syarah ‘ala Fath Mu’in karangan Syeikh Maulana Zainuddin al-Makhdumi al-Kahir al-Funnani (w.1304 H), terdiri atas 3 jilid.
8.    Ta’liq Kabir ‘ala Fath Mu’in, karangan Syeikh Ahmad bin Muhammad al-Balankuty (w. 1341 H)
9.    Dll

Anti Penjajahan


Syeikh Zainuddin al-Malibari juga merupakan seorang ulama yang sangat anti kepada penjajahan Portugis kala itu. Beliau sangat mencintai tanah airnya dan berupaya menyadarkan kaumnya akan pentingnya mencintai tanah air. Beliau juga menciptakan nasyid-nasyid yang mendendangkan kecintaan kepada tanah air dan membangkitkan ruh jihad melawan kaum kafir.  Untuk tujuan itu beliau mengarang Kitab Tuhfatul Mujahidin fi Ba’dh Akhbar al-Burtuthaliyin.
Dalam kitab ini beliau menjelaskan sedikit tentang hukum dan dorongan untuk berjihad, sejarah perkembangan Islam di Malaibar, sedikit tentang adat istiadat kaum kafir di Malaibar, dan sejarah masuknya kaum kafir Eropa ke Malibar serta bagaimana buruk dan kejamnya perlakuan mereka terhadap kaum muslimin. Beliau menghadiahkan kitab tersebut kepada Sultan Ali I bin Adil Syah, sultan di India Selatan masa itu.
Kitab ini mejadi sebuah kitab yang sangat bernilai karena menggerakkan perlawanan kepada kaum penjajah Portugis dan juga merupakan kitab pertama yang menceritakan sejarah Malaibar dahulu.
Dalam kitab Tuhfatul Mujahidin, Syeikh Zainuddin al-Maliibar juga menyebutkan bagaimana Portugis menguasai hampir seluruh Kerajaan di Islam di India dan wilayah Asia Tenggara. Beliau menyebutkan beberapa raja Muslim yang mampu merebut kembali benteng-bentang yang dibangun oleh Portugis, diantaranya adalah Sulthan al-Mujahid Ali al-Asyi yang tidak lain merupakan Sultan Kerajaan Aceh Darussalam, Sultan Ali Mughayat Syah, yang berhasil melepaskan Sumatra dari cengkraman Portugis. [1]

Wafat

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ahli sejarah tentang tahun wafat beliau. Menurut Jirji Zaidan yang diikuti oleh Carl Brockelmann dan az-Zarkali, beliau wafat tahun 987 H/1579 M. Namun pendapat ini sanga tidak tepat, karena dalam kitab Tuhfatul Mujahidin, Syeikh Zainuddin al-Malibari juga menceritakan kejadian-kejadian yang terjadi pada tahun 991 H/1583 M. Menurut pendapat yang kuat, beliau meninggal tahun 1028 H sebagaimana disebutkan oleh ahli sejarah India, Syeikh Muhammad Misliyar dalam kitabnya, Tuhfatul Akhyar fi Tarikh Ulama Malaibar.
Beliau dimakankan di dekat mesjid Jamik di Kungippalli, propinsi Chombal berdampingan dengan kubur istri beliau. Kubur beliau diziarahi oleh kaum muslim dari berbagai daerah.
Share:

Kamis, 04 Januari 2018

tariq bin ziyad sang penakluk spanyol

jumat, 05-01-2018

      kisah Tariq bin Ziyad sang penakluk spanyol


Dalam sejarah Spanyol, ia dikenal dengan nama Taric el Tuerto (Taric yang memiliki satu mata). Namun dunia mengenal dirinya sebagai salah satu panglima terbesar kaum muslimin yang berperan dalam membebaskan Spanyol. Nama lengkap penakluk Spanyol ini adalah Thariq bin Ziyad bin Abdullah bin Walgho bin Walfajun bin Niber Ghasin bin Walhas bin Yathufat bin Nafzau adalah putra suku Ash-Shadaf, suku Barbar, penduduk asli daerah Al-Atlas, Afrika Utara. Ia lahir sekitar tahun 50 Hijriah. Asal-usul Thariq tidak diketahui secara pasti. Menurut sejarawan Syauqi Abu Khalil dan dikutip oleh Alwi Alatas, ada yang menyebutnya sebagai keturunan dari Bani Hamdan dari Persia, atau dari suku Lahm. Ada juga yang menyebutkan Thariq berasal dari bangsa Vandals. Namun, banyak sejarawan yang menganggap dia keturunan dari bangsa Berber. Menurut Alwi Alatas, Thariq berasal dari keluarga muslim dan sejak kecil telah dididik secara Islam oleh ayahnya pada masa kekuasaan Uqbah bin Nafi di Ifriqiya. Ia ahli menunggang kuda, menggunakan senjata, dan ilmu bela diri. Setelah Rasulullah saw. wafat, Islam menyebar dalam spektrum yang luas. Tiga benua lama yaitu Asia, Afrika, dan Eropa pernah merasakan rahmat dan keadilan dalam naungan pemerintahan Islam. Tidak terkecuali Spanyol (Andalusia). Ini negeri di daratan Eropa yang pertama kali masuk dalam pelukan Islam di zaman Pemerintahan Kekhalifahan Bani Umaiyah.

Sebelumnya, sejak tahun 597 M, Spanyol dikuasai bangsa Gotic, Jerman. Raja Roderick yang berkuasa saat itu. Ia berkuasa dengan lalim. Ia membagi masyarakat Spanyol ke dalam lima kelas sosial. Kelas pertama adalah keluarga raja, bangsawan, orang-orang kaya, tuan tanah, dan para penguasa wilayah. Kelas kedua diduduki para pendeta. Kelas ketiga diisi para pegawai negara seperti pengawal, penjaga istana, dan pegawai kantor pemerintahan. Mereka hidup pas-pasan dan diperalat penguasa sebagai alat memeras rakyat.

Kelas keempat adalah para petani, pedagang, dan kelompok masyarakat yang hidup cukup lainnya. Mereka dibebani pajak dan pungutan yang tinggi. Dan kelas kelima adalah para buruh tani, serdadu rendahan, pelayan, dan budak. Mereka paling menderita hidupnya.

Akibat klasifikasi sosial itu, rakyat Spanyol tidak kerasan. Sebagian besar mereka hijrah ke Afrika Utara. Di sini di bawah Pemerintahan Islam yang dipimpin Musa bin Nusair, mereka merasakan keadilan, kesamaan hak, keamanan, dan menikmati kemakmuran. Para imigran Spanyol itu kebanyakan beragama Yahudi dan Kristen. Bahkan, Gubernur Ceuta, bernama Julian, dan putrinya Florinda yang dinodai Roderick ikut mengungsi.

Melihat kezaliman itu, Musa bin Nusair berencana ingin membebaskan rakyat Spanyol sekaligus menyampaikan Islam ke negeri itu. Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik memberi izin. Musa segera mengirim Abu Zar’ah dengan 400 pasukan pejalan kaki dan 100 orang pasukan berkuda menyeberangi selat antara Afrika Utara dan daratan Eropa.

Legenda kedatangan Tariq bin Ziyad di tanah spanyol

Setidaknya ada dua legenda tentang kedatangan Thariq bin ZIyad ke Al-Andalus. Legenda itu sebagai berikut:
  1. Legenda Wanita Tua. Saat Thariq baru membebaskan Kota Algeciras, ada seorang wanita tua yang meminta untuk bertemu Thariq. Setelah diizinkan oleh Thariq, wanita tua ini menuturknan kisahnya bahwa ia dulu memiliki seorang suami. Suaminya selalu mengatakan bahwa suatu hari nanti, negeri ini akan ditaklukkan oleh seorang jenderal asing. Jenderal ini memiliki kening yang menonjol dan tahi lalat hitam yang ditumbuhi rambut pada pundak kirinya. Mendengar itu, Thariq segera membuka pundak bagian kirinya yang ternyata memang memiliki tanda yang sama seperti yang dituturkan wanita tersebut. Pasukan Thariq pun kagum.
  2. Legenda Istana 27 Gembok. Kerajaan Visigoth memiliki satu istana yang sangat indah di Toledo dan memiliki 27 gembok. Raja-raja sebelumnya selalu berpesan bahwa apapun yang terjadi, istana itu tidak boleh dimasuki satu orang pun. Setiap raja yang baru bahkan menambahkan satu gembok sehingga ada 27 gembok. Saat Roderick naik tahta, ia sangat penasaran dengan isi istana itu. Pada suatu hari, ia membongkar semua gembok yang ada dan memasuki istana itu. Ternyata, di dalam istana itu terdapat sebuah ruangan lagi yang dikunci. Setelah membongkar kunci ruangan itu, Roderick kembali memasuki ruangan yang lebih dalam lagi. Ternyata di dalam ruangan itu ada sebuah perkamen yang berisi lukisan orang-orang yang sedang menunggang kuda. Mereka memakai baju yang kasar, penuh debu, memakai sorban di kepalanya, dan pedang mereka melengkung. Di sana juga terdapat sebuah tulisan,
     ...Kapan pun ruang perlindungan ini dilanggar dan mantra yang terdapat pada guci ini dilanggar, orang-orang yang terlukis pada guci ini akan menyerbu Andalusia, menggulingkan singgasana rajanya, serta menduduki seluruh negeri"
    Roderick ketakutan setelah membaca itu dan meyakini bahwa bencana akan menimpa dirinya.

ekspedisi pembebasan andalusia (spanyol)


Ramadhan 92 Hijriah atau 2 April 711 Masehi, Abu Zar’ah meninggalkan Afrika Utara menggunakan 8 kapal dimana 4 buah adalah pemberian Gubernur Julian. Tanggal 25 Ramadhan 92 H atau 23 April 711 masehi, di malam hari pasukan ini mendarat di sebuah pulau kecil dekat Kota Tarife yang menjadi sasaran serangan pertama.

Di petang harinya, pasukan ini berhasil menaklukan beberapa kota di sepanjang pantai tanpa perlawanan yang berarti. Padahal jumlah pasukan Abu Zar’ah kalah banyak. Setelah penaklukan ini, Abu Zar’ah pulang. Keberhasilan ekspedisi Abu Zar’ah ini membangkitkan semangat Musa bin Nusair untuk menaklukan seluruh Spanyol. Maka, ia memerintahkan Thariq bin Ziyad membawa pasukan untuk penaklukan yang kedua.


senin, 3 mei 711 masehi
   Thariq membawa 70.000 pasukannya menyeberang ke daratan Eropa dengan kapal. Sesampai di pantai wilayah Spanyol, ia mengumpulkan pasukannya di sebuah bukit karang yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar -diambil dari bahasa Arab “Jabal Thariq”, Bukit Thariq. Lalu ia memerintahkan pasukannya membakar semua armada kapal yang mereka miliki.

Pasukannya kaget. Mereka bertanya, “Apa maksud Anda?” “Kalau kapal-kapal itu dibakar, bagaimana nanti kita bisa pulang?” tanya yang lain.


Dengan pedang terhunus dan kalimat tegas, Thariq berkata..
 ...Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita hanya memiliki dua pilihan yaitu Menaklukkan negeri ini lalu tinggal di sini atau kita semua binasa..!!
Kini pasukannya paham. Mereka menyambut panggilan jihad Panglima Perang mereka itu dengan semangat berkobar.

Lalu Thariq melanjutkan briefingnya dan kemudian berpidato ...

“Wahai seluruh pasukan, kalau sudah begini ke mana lagi kalian akan lari? Di belakang kalian ada laut dan di depan kalian ada musuh. Demi Allah swt., satu-satunya milik kalian saat ini hanyalah kejujuran dan kesabaran. Hanya itu yang dapat kalian andalkan.

Musuh dengan jumlah pasukan yang besar dan persenjataan yang lengkap telah siap menyongsong kalian. Sementara senjata kalian hanyalah pedang. Kalian akan terbantu jika kalian berhasil merebut senjata dan perlengkapan musuh kalian. Karena itu, secepatnya kalian harus bisa melumpuhkan mereka. Sebab kalau tidak, kalian akan menemukan kesulitan besar. Itulah sebabnya kalian harus lebih dahulu menyerang mereka agar kekuatan mereka lumpuh. Dengan demikian semangat juang kita akan bangkit.

Musuh kalian itu sudah bertekad bulat akan mempertahankan negeri mereka sampai titik darah penghabisan. Kenapa kita juga tidak bertekad bulan untuk menyerang mereka hingga mati syahid? Saya sama sekali tidka bermaksud menakut-nakuti kalian. Tetapi marilah kita galang rasa saling percaya di antara kita dan kita galang keberanian yang merupakan salah satu modal utama perjuangan kita.

Kita harus bahu membahu. Sesungguhnya saya tahu kalian telah membulatkan tekad serta semangat sebagai pejuang-pejuang agama dan bangsa. Untuk itu kelak kalian akan menikmati kesenangan hidup, disamping itu kalian juga memperoleh balasan pahala yang agung dari Allah swt. Hal itu karena kalian telah mau menegakkan kalimat-Nya dan membela agama-Nya.

Percayalah, sesungguhnya Allah swt. adalah penolong utama kalian. Dan sayalah orang pertama yang akan memenuhi seruan ini di hadapan kalian. Saya akan hadapi sendiri Raja Roderick yang sombong itu. Mudah-mudahan saya bisa membunuhnya. Namun, jika ada kesempatan, kalian boleh saja membunuhnya mendahului saya. Sebab dengan membunuh penguasa lalim itu, negeri ini dengan mudah kita kuasai. Saya yakin, para pasukannya akan ketakutan. Dengan demikian, negeri ini akan ada di bawah bendera Islam.”

Mendengar pasukan Thariq telah mendarat, Raja Roderick mempersiapkan 100.000 tentara dengan persenjataan lengkap. Ia memimpin langsung pasukannya itu. Musa bin Nusair mengirim bantuan kepada Thariq hanya dengan 5.000 orang. Sehingga total pasukan Thariq hanya 12.000 orang. Pada hari Ahad, 28 Ramadhan 92 H atau 19 Juli 711 M, kedua pasukan bertemu dan bertempur di muara Sungai Barbate. Pasukan muslimin yang kalah banyak terdesak. Julian dan beberapa orang anak buahnya menyusup ke kubu Roderick. Ia menyebarkan kabar bahwa pasukan muslimin datang bukan untuk menjajah, tetapi hanya untuk menghentikan kezaliman Roderick. Jika Roderick terbunuh, peperangan akan dihentikan.

Usaha Julian berhasil. Sebagian pasukan Roderick menarik diri dan meninggalkan medan pertempuran. Akibatnya barisan tentara Roderick kacau. Thariq memanfatkan situasi itu dan berhasil membunuh Roderick dengan tangannya sendiri. Mayat Roderick tengelam lalu hanyat dibawa arus Sungai Barbate.

Terbunuhnya Roderick mematahkan semangat pasukan Spanyol. Markas pertahanan mereka dengan mudah dikuasai. Keberhasilan ini disambut gembira Musa bin Nusair. Baginya ini adalah awal yang baik bagi penaklukan seluruh Spanyol dan negara-negara Eropa.

Setahun kemudian, Rabu, 16 Ramadhan 93 H, Musa bin Nusair bertolak membawa 10.000 pasukan menyusul Thariq. Dalam perjalanan ia berhasil menaklukkan Merida, Sionia, dan Sevilla. Sementara pasukan Thariq memabagi pasukannya untuk menaklukkan Cordova, Granada, dan Malaga. Ia sendiri membawa sebagian pasukannya menaklukkan Toledo, ibukota Spantol saat itu. Semua ditaklukkan tanpa perlawanan.

Pasukan Musa dan pasukan Thariq bertemu di Toledo. Keduanya bergabung untuk menaklukkan Ecija. Setelah itu mereka bergerak menuju wilayah Pyrenies, Perancis. Hanya dalam waktu 2 tahun, seluruh daratan Spanyol berhasil dikuasai. Beberapa tahun kemudian Portugis mereka taklukkan dan mereka ganti namanya dengan Al-Gharb (Barat).

Sungguh itu keberhasilan yang luar biasa. Musa bin Nusair dan Thariq bin Ziyad berencana membawa pasukannya terus ke utara untuk menaklukkan seluruh Eropa. Sebab, waktu itu tidak ada kekuatan dari mana pun yang bisa menghadap mereka. Namun, niat itu tidak tereaslisasi karena Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik memanggil mereka berdua pulang ke Damaskus. Thariq pulang terlebih dahulu sementara Musa bin Nusair menyusun pemerintahan baru di Spanyol.

Setelah bertemu Khalifah, Thariq bin Ziyad ditakdirkan Allah swt. tidak kembali ke Eropa. Ia sakit dan menghembuskan nafas. Thariq bin Ziyad telah menorehkan namanya di lembar sejarah sebagai putra asli Afrika Utara muslim yang menaklukkan daratan Eropa.

sumber ( http://www.biografiku.com/2010/04/biografi-thariq-bin-ziyad-penakluk.html )
Share:

Senin, 01 Januari 2018

syaikh ahmad rifa'i al-jawi

sejarah adanya organisasi rifaiyah di indonesia
pati,2-1-2018

Rifa'iyah adalah sebuah Organisasi para santri K.H. Ahmad Rifa'i Desa Kalisalak Kecamatan Limpung - Batang - Jawa Tengah Indonesia. Untuk lebih mengenal tentang Rifaiyah disini saya paparkan mengenai tokoh utama Rifa'iyah yaitu Kyai Haji Ahmad Rifa'i. Saya mengutip tulisan ini dari buku karangan H. Ahmad Syadirin Amin yang berjudul "Pemikiran Kiai Haji Ahmad Rifai Tentang Rukun Islam Satu"terbitan Jama'ah Masjid Baiturrahman Jakarta Pusat Tahun 1994/1415 H dengan harapan akan membantu anda mengenal siapa Kiai Haji Ahmad Rifai sehingga diketahui asal muasal Rifa'iyah. Sebelumnya Sebagai Tradisi K.H.Ahmad Rifa'i yang harus saya lestarikan adalah dia selalu mengawali setiap tulisan dia dengan bacaan Bismillah dan Hamdallah dan Solawat , setelah membaca Bismillah dan Hamdallah serta solawat maka mari Kita mulai membaca uraian dibawah ini.
#biografi   
 Kiai Haji Ahmad Rifai dilahirkan pada 9 Muharam 1200 H atau 1786 di desa Tempuran Kabupaten Kendal dari pasangan suami isteri K.H. Muhammad Marhum Bin Abi Sujak Seorang Penghulu Landerad di Kendal dan Siti Rahmah. Pada waktu usia Dia sekitar 6 tahun ayah Dia wafat (Semoga Allah Mengasihinya), sehingga Dia mendapat sentuhan kasih sayang dari seorang ayah dalam waktu yang singkat, yaitu selama 6 tahun. pada usianya yang begitu muda itu (6 tahun) itu dia (Ki Ahmad) sudah diasuh oleh kakaknya yang bernama Nyai Rajiyah istri Kiai As'ari seoarang ulama pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Kaliwungu.
   Di sinilah Syekhina belajar ilmu agama kepada kiai As'ari dan diamalkan melalui dakwah lisan dan tulisan kepada rakyat sekitarnya, sebelum sampai kesuksesannya menelurkan banyak karya ilmiah yang sarat ilmu dan patriotisme serta cita-cita kemerdekaan yang justru menghadirkannya pada suatu keadaan yang tidak menguntungkan baginya dan bagi kita (dampaknya sampai sekarang) yaitu: berpisah dengan keluarga dan menikmati masa masa terakhir hidup dalam pengasingan meski sempat ada komunikasi lewat surat-menyurat dengan Maufuro tetapi setelah ketahuan Belanda hubungan benar-benar putus dan para murid semakin terpojok oleh isolasi Belanda, kitab-kitab banyak disita Belanda dan sekarang cerita ini hanya diketahui oleh beberapa orang saja bahkan keturunan syeikhina dijawa tidak diketahui, tanah wakaf dijarah penduduk meski sebagian telah dibeli / dimerdekakan oleh para Saudara Rifaiyah yang semoga dimuliakan Allah serta isu klasik yang menyerang para muridnya ditambah tidak adanya regenarasi menjadikan kita minoritas kalah kuantitas bahkan mungkin kualitas.
   Dia hidup dipengasingan sampai ajalnya menjemputnya di Ambon pada Kamis 25 Robiul Akhir 1286 H (usia 86 tahun), ada riwayat lain yang mengatakan dia wafat pada 1292 H (92 tahun, semoga yang ini benar, karena itu berarti dia panjang umur) di kampung Jawa Tondano Kabupaten Minahasa, Manado Sulawesi Utara dan dimakamkan di komplek makam pahlawan Kiai Modjo di sebuah bukit yang terletak kurang lebih 1 km dari kampung Jawa Tondano (Jaton) .

#perjalanan mencari ilmu dan menyebarkan ilmu
   Setelah beberapa kali keluar masuk penjara Kendal dan Semarang karena dakwahnya tegas, dalam usia 30 tahun, Ahmad Rifai berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, ke Madinah ziarah Makam Rosululloh SAW dan memperdalam ilmu di sana selama 8 tahun. Dan kemudian di Mesir selama 12 tahun. Di Haramain (Mekkah dan Madinah) ia berguru kepada Syaikh Abdul Aziz Al Habisyi, Syaikh Ahmad Ustman dan Syaikh Is Al -Barawi. Sedang di Mesir ia berguru pada Syaikh Ibrahim Al Bajuri dan kawan-kawan.
Pulang ke Kendal menjelang kembali ke kampung halaman di Kendal, Kiai Haji Ahmad Rifai bertemu dengan ulama-ulama Indonesia di Mekkah , Nawawi dari BantenMuhammmad Khallil dari Madura dan teman yang lain. Dalam pertemuan itu, mereka mengadakan musyawarah untuk memikirkan nasib umat di Indonesia yang sedang terbelenggu oleh takhayulkufarat dan mistis. Bahkan bangsa Indonesia sedang dalam cengkeraman Belanda hasil musyawarah yang mereka sepakati bersama, mengadakan pembaharuan dan pemurnian islam lewat pengajian, diskusi, dialog dan penerjemahan kitab-kitab bahasa Arab ke bahasa Jawa ( Jarwa'ake!).
Isi dalam karya diutamakan membahas ilmu pokok yaitu Aqidah Islamiah Ibadah - Muammalah dan Akhlak. Kiai Nawawi mengemban tugas menyusun kitab Aqidah, Ahmad Rifai Fiqih dan Muhammad Khallil menyusun Tasawuf. Pada tahun 1254 H Haji Ahmad Rifai telah selesai menyusun kitab Nasihatul Awam di Kalisalak Batang PekalonganNawawi menetap di Banten dan Khllil di Madura. Bagi Syekh Nawawi , karena keadaan pada waktu itu masih di bawah jajahan Belanda, dan setiap gerak-gerik ulama selalu diawasi, termasuk kegiatan Nawawi, ia terpaksa kembali ke Mekkah untuk mengajarkan ilmu yang dimiliki kepada mahasiswa yang berdatangan ke sana dari berbagai negara.
Di Mekkah, ia tinggal disebuah perkampungan Syi'ib Ali sampai wafatnya. Muhammad Khallil memimpin pesantren dan sebagai guru tarekat muktabarah di Bangkalan Madura sampai akhir hayatnya. Sedang Ahmad Rifai sebelum hijrah ke Kalisalak, Haji Ahmad Rifai pulang ke desa Tempuran Kendal ingin melepas rindu dengan keluarga. Namun Tuhan menghendaki lain, istri yang diharapkan bisa memberi semangat dalam perjuangan, telah tiada.
Meskipun demikian, semangat Syeikhina dalam menegakkan kebenaran mengalahkan kebatilan tidak menjadi surut. Tidak lama setelah pulang dari Mekkah, Syeikhina dia tidak diperkenankan tinggal di Kendal karena Haji Ahmad Rifai selalu mengkritik elit e agama ,birokrasi Belanda dan Masyarakat yang berkolaborasi dengan kolonial Belanda. Karena Menurut Syaikhina Belanda adalah kafir. Strategi Dakwah Pesantren Kaliwungu Kendal adalah sebuah pemondokan para santri dari berbagai daerah belajar mengaji kitab salaf kepada seorang kiai asli keturunan Keraton Yogyakarta Kiai Asy'ari namanya kakak ipar Syeikhina, suami Nyai Rajiyah (kakak perempuan Syeikhina).
Di pesantren inilah Syeikhina dibesarkan dan memperoleh pendidikan dan pembinaan dari Kiai Asy'ari, setelah tumbuh menjadi pemuda dan dianggap cukup pengetahuan ilmu agamanya, Kiai Ahmad Rifai terjun ke dunia dakwah di Kendal, Wonosobo bahkan Pekalongan, di Kendal ia mendirikan pengajian dan menghimpun parasantri yang datang dari berbagai daerah, sehingga menjadi kelompok pengajian yang besar.
Keberhasilan Kiai Ahmad Rifai ini karena dakwah dan pengajiannya sangat menarik sebelum kegiatannya diketahui oleh pemerintah kafir kolonial setempat, Ahmad Rifai Kiai keturunan Kraton Yogyakarta ini telah berhasil menggalang kekuatan barangkali belum pernah dimiliki kiai-kiai lain. Sehingga pada saat ia diasingkan dari Kendal kemudian atas inisiatif sendiri menetap di Kalisalak , Kiai Ahmad Rifai sudah punya jaringan luas untuk mengembangkan ajarannya. Strategi dakwah yang dikembangkan kiai Ahmad Rifai saat itu antara lain: menghimpun anak-anak muda untuk dipersiapkan kelak menjadi kader-kader dakwah, karena pemuda adalah harapan keluarga dan masyarakat. Di tangan pemudalah urusan umat dan dalam derap langkah pemudalah hidupnya umat. Sekarang pemuda, esok pemimpin. Pemuda Qahar dan Maufuro adalah bukti hasil pengaderannya.
Menghimpun kaum dewasa lelaki dan perempuan dari kaum petani, pedagang dan pegawai pemerintah, dimaksudkan untuk memperkokoh strategi dakwah, penyokong utama dalam segi finansial dan dewan harian pelaksanaan dakwah pengajiannya itu. Mengunjungi sanak famili terdekat diajak bicara tentang kondisi agama, politik dan sosial yang dimainkan oleh pemerintah kolonialismeBelanda dengan membuktikan fakta-fakta yang ada dan langkah yang akan ditempuh dengan dakwah dan pengajian, supaya memperoleh simpati keluarga. Para santri dan murid dianjurkan kawin antar sesama murid atau murid dengan anak guru, antar desa dan antar daerah dimaksudkan agar terjalin hubungan yang mesra dan saling menumbuhkan kasih sayang dan dapat mengembangkan ilmunya didaerah masing masing. Kiai Maufuro menikah dengan anaknya bernama Nyai Fatimah alias Umroh.
Pada hari-hari tertentu mengadakan kegiatan khuruj berkunjung ke tempat lain yang miskin materi dan agama . Dengan kunjungan itu diharafkan akan memperoleh respon dari masyarakat atau mungkin paling tidak dapat membentengi pengaruh budaya barat yang merusak. Menghimpun kader-kader muslim terdiri dari santri dan murid dari berbagai daerah kemudian dijadikan mubalig untuk diterjunkan ke berbagai pelosok guna memberi dan menyampaikan dakwah ketengah masyarakat.
Mendatangi masjid-masjid untuk memperbaruhi arah salat ke arah menghadap kiblat. Masyarakatnya, disarankan agar tidak menaati pemerintah kolonial, Belanda di Indonesia telah merusak kepribadian dan kebudayaan bangsa.
Menerjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab dengan kitab berbahasa Jawa yang mudah dipahami dan diamalkan dengan model karangan sendiri. Untuk menyesuaikan kondisi masyarakat pada waktu itu, dibuatkan kitab -kitab berbentuk syair atau nadzam yang indah dan dilagukan sedemikian rupa sehingga menarik minat pembaca dan pendengar, kertas putih, tulisan merah, untuk setiap Al Qur'an, Al Hadits, Qoulul Ulama (perkataan ulama) serta tiap kata awal dari syair (yang Mengilhami ditulisnya tulisan ini dengan huruf merah pada awal paragraf) serta hitam untuk tulisan makna dan komentar, penulisan ini sesuai dengan budaya bangsa sejak Sultan Agung MataramXVI dalam penulisan kitab-kitab Arab.
Menciptakan kesenian terbang (rebana) disertai dengan lagu-lagu, syair-syair, nadzam-nadzam yang diambil dari kitab karangannya, sehingga terbangan itu di sebut Jawan. Terbangan itu dimanfaatkan untuk mengingat pelajaran, hiburan pada saat ada hajatan dan sekaligus mengantisipasi budaya asing yang merusak. Budaya itu sengaja dibawa Belanda ke Indonesia untuk melawan budaya tanah air yang diwariskan oleh nenek moyang kita yang muslim dan mukmin.
Pindah Ke Kalisalak rupanya pemerintah kolonial merasa khawatir terhadap gerakan keagamaan Haji Ahmad Rifai itu berkembang di daerah kendal dan sekitarnya, karena gerakan yang semula dirintangi itu ternyata makin banyak pengikutnya dari daerah lain. Diduga kekhawatiran pemerintah Belanda terhadap gerakan Ahmad Rifai ini, diilhami oleh kekhawatiran pemerintah kolonial akan munculnya kembali pemberontakan, seperti terjadinya Perang Diponegoro di Jawa Tengah pada 1825 - 1830.
Pemerintah tidak mau lagi jatuh kedua kalinya dalam satu lubang. Sebelum Mubalig Ulung lebih jauh melangkah, pemerintah kolonial mengambil langkah mengasingkan ulama kharismatik ini ke luar Kendal, tidak lain agar gerakan dia terhambat dan tidak berkembang. Atas kenyataannya ini kemudian ia memilih tempat tinggal di Kalisalak sebagai basis perjuangannya. Langkah ini ditempuh karena Kalisalak merupakan daerah strategis untuk medan dakwah dan memudahkan kontak hubungan dengan semua pihak dari berbagai wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Pada umumnya masyarakat disana kaum petani yang pengetahuan agamanya perlu disempurnakan. Selain itu para murid yang pernah mendapat latihan mental waktu di Kendal adalah dari Krisidenan Pekalongan, di samping Karisidenan lain, seperti Maufuro Batang, Abu Ilham Batang, Abdul Azis Wonosobo, Abdul Hamid Wonosobo, Abdul Qohar Kendal, Muhammad Thuba Kendal, Imamtani Kutowinangun, Muh Idris Indramayu, Muharrar Purworejo, Mukhsin Kendal, Mas Suemodiwiryo Salatiga, Abdullah ( Dolak ) Magelang, Abu Hasan Wonosobo, Abu Salim Pekalongan, Abdul Hadie Wonosobo, Tawwan Tegal, Asnawi Pekalongan, Abdul Saman Kendal, Abu Mansyur Wonosobo, Abdul Ghani Wonosobo, Muhammad Hasan Wonosobo, Muhammad Tayyib Wonosobo, Ahmad Hasan Pekalongan, Nawawi Batang , Abu Nawawi Purwodadi.
Mereka itulah kader-kader Mubaligh tangguh yang berjasa mengembangkan pemikiran Haji Ahmad Rifai ke daerah - daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Ketika Haji Ahmad Rifai berada di Kendal sempat menuklahkan putranya, Fatimah Alias Umroh dengan lurah Pondok, Maufuro bin Nawawi, Keranggonan ( sekarang Karanganyar ) Kecamatan Limpung. Setelah meninggalkan kota Kendal, Haji Ahmad Rifai sementara tinggal di rumah Kiai Maufuro menantunya.
Tidak lama kemudian Ahmad Rifai menikahi janda Demang Kalisalak Alm Martowidjojo namanya Sujainah lalu ia hidup bersama istrinya di Kalisalak. Di Kalisalak pada mulanya Kiai Haji Ahmad Rifai menyelenggarakan pengajian untuk anak-anak. Namun lembaga itu kemudian berkembang menjadi majelis pendidikan yang mencakup pula orang-orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. Satu hal yang menyebabkan pengajian haji Ahmad Rifai cepat terkenal adalah metode terjemahannya, baik Al-Quran, Al-Hadits maupun kitab-kitab karangan ulama Arab dan Aceh lebih dahulu diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa sebelum diajarkan kepada para murid, bahkan kelihatan sebagai kewajiban yang ditempuh secara sadar,seperti yang tersirat di dalam satu bait kitab Ri'ayatal Himmah karya Haji Ahmad Rifai, sebagai berikut:
Wajib saben alim adil nuliyan narajumah kitab Arab rinetenan supoyo wong jawi akeh ngerti pitutur saking Qur'an lan kitab - kitab Arab jujur kaduwe wong awam enggal ngerti milahur ningali kitab Tarjamah jawi pitutur
Artinya: Diwajibkan bagi setiap alim adil ( ulama akhirat ) untuk menejemahkan kitab Arab, agar orang jawa lebih mengerti ajaran dari Al Quran dan kitab-kitab Arab ( Hadits dan Ulama ) dengan benar sehingga orang awam mengerti dan segera melaksanakannya.
Melihat ( membaca dan mempelajari ) kitab Tarjumah jawa sebagai ajaran. karena metodenya yang tepat manfaat maka tak mustahil pengajian Ahmad Rifai cepat berkembang. Para muridnya datang dari daerah yang dekat saja seperti KendalBatang dan Pekalongantetapi juga berasal dari Kedu , WonosoboMagelang , BanyumasKerawangIndramayu dan lainnya . Dan intensitas pengajaran tauhid , fiqh dan tasawuf rasional yang dijalankan oleh Haji Ahmad Rifai yang menyebabkan perbedaan antara tradisi keliru yang telah mapan dengan pemikiran barunya . Mendirikan Pesantren Kiai Haji Ahamd Rifai mendirikan lembaga pendidikan pondok pesantren di Kalisalak Batang . Sistem pengajaran yang menggunakan terjemahan bahasa jawa untuk memahami ajaran - ajaran islam , mendorong bertambahnya murid pesantren yang berdatangan dari berbagai daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sementara waktu itu kebiasaan di pondok pesantren masih berlaku pengajian kitab - kiatb berbahasa Arab saja , dan masih asing terhadap kitab kitab terjemahan. Menurut DR. Karel A. Steenbrink ( Sarjana Belanda ) bahwa di dalam sejarah dakwah , Ahmad Rifai bisa dianggap hampir satu - satunya tokoh yang bisa memberikan uraian tentang agama Islam tanpa memakai idiom - idiom Arab dan mampu mengarang buku dalam bahasa yang menarik karena memakai bentuk syair. Metodologi yang digunakan dalam pengajarannnya menggaunakan empat tahapan . Keempat tahapan itu adalah:
Tahapan Pertama ; Seorang santri harus belajar membaca kitab Tarojumah terbatas pada tulisan Jawa. Sistem pengajaran ini dinamakan ngaji irengan , mengejakan satu persatu huruf kemudian merangkum menjadi bacaan atau kalimat, tingkatan ini merupakan awal di dalam cara membaca kitab Tarojumah . Disamping itu para Santri harus menghafal syarat rukun iman, dan islam, ibadah salat dan wiridan " Angawaruhi Ati Ningsun.......!" atau " Sahadat Loro". Setelah Salat fardlu, diwajibkan mengikuti praktik Salat yang dipimpin oleh lurah -pondok yang bersangkutan .
Tahapan Kedua ; Mengaji dalil - dalil Al - Qur'an , Hadist dan Qoulul Ulama', yang terdapat Kitab Tarojumah. Dalam Tahapan ini Seorang Lurah pondok harus menguasai ilmu tajwid Al - Qur'an dan mampu mengaplikasikannya dalam bacaan Al-Qur'an dengan benar. Pengajian tahap ini disebut ngaji abangan karena memang tulisan Arab untuk dalil adalah berwarna merah atau ABANG atau disebut juga ngaji dalil karena hanya dalil saja yang dibaca. Di samping itu santri harus hafal dan bisa serta paham tentang Syarat - Rukun Puasa dan Salat.
Tahapan Ketiga ; Mengaji dalil dan makna jadi satu dari kitab - kitab Tarojumah , tahapan ini dinamakan ngaji lafal makno ( belajar menerjemahkan tiap kata dalil / kalimat dalil dengan bahasa jawa yang ada dibawah dalil itui ) , disini para santri membutuhkan kejelian dalam mencari arti.
Tahapan Keempat ; Seorang santri diajak memahami maksud yang terkandung dalam kitab - kitab Tarojumah , karena hampir setiap kalimat mempunyai makna harfiah dan tafsiriah yang tentunya membutuhkan keterangan dan pemahaman yang dalam . Kitab - kitab Tarojumah disusun dengan formula lengkap : Kamaknanan , Kamurodan , Kasarahan , Kamaksudan Dan Kapertelanan , atau dengan kata lain ngaji maksud , ngaji sorah , ngaji bandungan , atau ngaji sorogan . Pengajian ini berupa pembacaan dan penerangan isi kandungannya dan dilakukan oleh Syaikhina Haji Ahmad Rifai sendiri dihadapan para santri dan murid pilihan kemudian mereka satu persatu memcoba menirukan seperti apa kata dia . Dalam pengajian ini diajarkan pula oleh ulama' itu tentang ilmu dan amalan kesunahan yang tidak tertulis di dalam kitab - kitab Tarojumahnya.
Kitab - Kitab Tarojumah Karangannya Kitab -kitab karya Kiai Haji Ahmad Rifai di Jawa yang dapat diketahui pasti ada 62 buah judul kitab rangkuman berbagai soal keagamaan yang diambil dari Al - Qur'an dan Al - Hadits dan kitab - kitab bahasa Arab karangan ulama' - ulama' terdahulu yang diterjemahkan secara bebas kedalam bahasa Jawa , karenanya disebut Tarajumah , berisi ilmu Tauhid , Fiqih dan Tasawuf , memakai huruf Arab Jawa Pegon, sebagian besar berbentuk nadzam ( puisi tembang ), setiap empat baris dengan akhiran sama dan sebagian lagi natsar ( prosa ) atau natsrah ( nadzam dan natsar sekaligus ) , selain itu ada juga yang berbentuk miring yang disebut Tanbih Rejeng.

Karya Tulis

Kitab - kitab yang disusun di pulau Jawa


kitab tarjamah (berbahasa jawa)



Ada 62 Kitab :
  1. Risalah berisi fatwa - fatwa agama ( 1254 H ) ;
  2. Nasihatul 'Awam , berisi Nasihat kepada masyarakat / awam ( 1254 H ) ;
  3. Syarihul Iman, berisi Bab Iman , Islam , Ihsan dan barang ta'alu' ( 1255 H ) ;
  4. Taisir , berisi Ilmu Salat Jumat ( 1255 H ) ;
  5. 'Inayah , berisi Bab Khalifah Rosullulloh ( 1256 H ) ;
  6. Bayan , berisi Ilmu meteodologi mendidik dan mengajar ( 1256 H ) ;
  7. Jam'ul Masail , berisi Bab 3 Ilmu Agama ( 1256 H ) ;
  8. Qowa'id , berisi Bab Ilmu Agama ( 1257 H ) ;
  9. Targhib , berisi Bab Makrifatulloh ( 1257 H ) ;
  10. Thoriqot Besar , berisi Bab Hidayatulloh ( 1257 H ) ;
  11. Thoriqot Kecil , berisi Bab Thariqotulloh ( 1257 H ) ;
  12. Athlab , berisi Bab mencari Ilmu Pengetahuan ( 1259 H ) ;
  13. Husnul Mitholab , berisi 3 Ilmu Agama ( 1259 H );
  14. Thulaab , berisi Bab Kiblat Salat ( 1259 H ) ;
  15. Absyar , berisi Bab Kiblat Salat ( 1259 H ) ;
  16. Tafriqoh , berisi Bab Kewajiban Mukalaf ( 1260 H ) ;
  17. Asnal Miqosod , Bab 3 Ilmu Agama ( 1261 H ) ;
  18. Tafsilah , berisi Bab Kemntapan Iman ( 1261 H ) ;
  19. Imdaad , berisi Masalah Dosa Takabur ( 1261 H ) ;
  20. Irsyaad , berisi Bab Ilmu Manfaat ( 1261 H ) ;
  21. Irfaq , berisi Bab Iman , Islam , dan Ihsan ( 1261 H ) ;
  22. Nadzam Arja Safa'at , berisi Hikayat Isro' Mi'roj Nabi Sol'Am ( 1261 H ) ;
  23. Jam 'ul Masail , berisi Bab Fiqih dan Tasawuf ( 1261 H );
  24. Jam'ul Masail , berisi Bab Tasawuf ( 1261 H ) ;
  25. Tahsin , berisi Bab Fidyah Salat Dan Puasa ( 1261 H ) ;
  26. Showalih , berisi Kerukunan Umat Beragama ( 1262 H ) ;
  27. Miqshadi , berisi Bab bacaan Al Fatihah ( 1262 H );
  28. As'ad , berisi Bab Iman dan Ma'rifatulloh ( 1262 H ) ;
  29. Fauziah , berisi Bab Jumalah Maksiat ( 1262 H ) ;
  30. Hasaniah , berisi Bab Fardlu Mubadarah ( 1262 H ) ;
  31. Fadliyah , berisi Bab Dzikrulloh ( 1263 H ) ;
  32. Tabyanal Islah , berisi Bab Nikah Tholaq Rujuk ( 1264 H );
  33. Abyanal Hawaij , berisi Bab 3 Ilmu Agama ( Ushul-Fiqih-Tasawuf ) ( 1265 H ) ;
  34. Takhirah Mukhtasar , berisi Bab Iman Islam ( 1266 H ) ;
  35. Ri'ayatal Himmah , berisi Bab 3 Ilmu Agama ( 1266 H ) ;
  36. Tasyrihatal Muhtaj , berisi Masalah Mu'amalah ( EKSOS ) ( 1266 H ) ;
  37. Kaifiyah , berisi Bab Tata Cara Salat ( 1266 H ) ;
  38. Misbahah , berisi Bab Dosa Meninggalkan Salat ( 1266 H ) ;
  39. Ma'uniyah , berisi Sebab Jadi kafir ( 1266 H ) ;
  40. 'Uluwiyah , berisi Bab Takabur karena Harta ( 1266 H ) ;
  41. Rujumiyah , berisi Bab Salat Jum'ah ( 1266 H ) ;
  42. Mufhamah , berisi Bab Mukmin dan Kafir ( 1266 H ;
  43. Basthiyah , berisi Bab Ilmu Syariat ( 1267 H ) ;
  44. Tahsinah , berisi Bab Ilmu Tajwid ( 1268 H ) ;
  45. Tadzkiyah , berisi Bab Menyembelih Binatang ( 1269 H );
  46. Fatawiyah , berisi Bab Cara Berfatwa Agama ( 1269 H ) ;
  47. Samhiyah , berisi Bab Salat Jum'ah ( 1269 H ) ;
  48. Rukhsiyah , berisi Bab Salat Jama' - Qosor dan Salat Musafir ( 1269 H ) ;
  49. Maslahah , berisi Bab Pembagian Warisan Islami ( 1270 H ) ;
  50. Wadlihah , berisi Bab Manasikh Haji ( 1272 H ) ;
  51. Munawirul Himmah , berisi Bab Wasiat Kepada Manusia ( 1272 H ) ;
  52. Surat kepada R. Penghulu Pekalongan ( 1273 H );
  53. Tansyirah , 10 Wasiyat Agama ( 1273 H );
  54. Mahabbatulloh , berisi Bab Nikmatulloh ( 1273 H ) ;
  55. Mirghabut Tha'ah* , berisi Iman dan Syahadah ( 1273 H ) ;
  56. Hujahiyyah , berisi Bab Tata Cara Berdialog ( 1273 H ) ;
  57. Tashfiyah , Bab Makna Fatihah ( 1273 H ) ;
  58. 500 Tanbih Bahasa Jawa , ( 1273 H ) ;
  59. 700 Nadzam Do'a dan Jawabannya ( 1270 - 1273 H ) ;
  60. Puluhan Tanbih Rejeng , Masalah Agama ( 1273 H ) ;
  61. Shihatun Nikah , Mukhtashar Tabyanal Islah ( 1270-an H );
  62. Nadzam Wiqoyah ( 1270 -an H )

Kitab - Kitab , Surat Wasiat dan Tanbih yang disusun di Ambon

  1. Targhibul Mathlabah , Berisi Bab Ushuliddin ( 1274 H ) ;
  2. Kaifiyatul Miqshadi , Berisi Bab Fiqih ( 1275 H ) ;
  3. Nasihatul Haq , Bab Tasawuf ( 1275 H ) ;
  4. Hidayatul Himmah , Bab Tasawuf ( 1275 H ) ;
  5. 60 Buah kitab Tanbih bahasa Melayu ( 1275 H );
  6. Surat wasiat kepada Maufuro dan Murid - Murid lainnya ! ( 1275 H ) ;
Perlu diketahui bahwa kitab Tanbih terdiri dari tiga halaman folio sebanyak 114 baris nadzam dan di dalam setiap tanbih membahas satu masalah agama yang berbeda dengan nyang lain , berati dalam 500 tanbih terdapat 500 judul. Kalau tiap satu tanbih dapat dihitung sebuah kitab , maka kitab - kitab karangan syeikhina Kiai Haji Ahmad Rifai ada 562 Kitab yang dikarang di Pulau Jawa saja, kitab - kitab yang dikarang di Ambon yang terdiri dari 60 Tanbih dan 4 kitab bahasa melayu serta dua surat wasiat kepada Maufuro, jadi kalau ditotal semua karangan Guru Besar Tarjumah ada 627 buah kitab.
Adapun data mengenai nama kitab, tahun selesai dikarang, dan kandungan bersumber pada :
  1. Jadwal Kitab yang disusun oleh Kiai Ahmad Nasihun bin Abu Hasan Paesan tengah Kedungwuni Pekalongan ( 1966 M ) ;
  2. Kitab - kitab karangan Kiai Haji Ahmad Rifai dipulau Jawa
  3. Buku Sejarah Nasional karangan Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo , Nugroho Notosusanto dkk. Masa Akhir Perjuangan Dia Di Pulau Jawa
Tahun 1272 H ( 1856 ) adalah tahun permulaan krisis bagi gerakan Syeikhina Kiai Haji Ahmad Rifai . Hal ini disebabkan hampir seluruh kitab karangan ( dan Hasil tulisan tangan dia ) disita oleh pemerintah Belanda , disamping itu para murid dan Ahmad Rifai sendiri terus - menerus mendapat tekanan Ratu Kafir Tanah Jawa ( RKTJ Bukan GITJ ) yaitu Belanda . Sebelum Haji Ahmad Rifai diasingkan dari kaliwungu Kendal Semarang , tuduhan yang dikenakan hanyalah persoalan menghasut pemerintah Belanda dan membawa Haji Ahmad Rifai dipenjara beberapa hari di Kendal , Semarang dan terakhir di Wonosobo .
Maka selama di Kalisalak persidangan panjang dialaminya , menghasut , mendoktrin jamaah membuat Syair - Syair protes dan beberapa Kitab yang isinya menyinggung Anti kolonial Belanda dan Kroni - kroninya serta mengkader pejuang pejuang militan di Pesantrennya adalah selalu menjadi tuduhannya. Tuduhan itu dari wedono Kalisalak yang meminta agar Haji Ahmad Rifai diasingkan dari Kalisalak ternyata tidak bisa dibuktikan sebagaimana dalam surat keputusan kelima dari Gubernur Jenderal Duymaer Van Twist yang dibuat pada tanggal 2 Juli 1855 menyatakan bahwa seluruh tuduhan terhadap Haji Ahmad Rifai belum bisa dibuktikan , dan perlu diperiksa dalam persidangan biasa . Untuk sementara waktu waktu perkara tersebut ditutup.
Pada tahun 1856 Jendral Albertus Jacub Duymaer Van Twist oleh Jendral Charles Ferdinand Pahud, Wedono Kalisalak memandang perlu untuk mengangkat kembali permasalahan pengasingan Kiai Haji Ahmad Rifai , namun ternyata jendral Pahud pun menyatakan menolak sebagaimana yang ditulis dalam suratnya tertanggal 23 November 1858. Akan tetapi tekad dan dendam Iblis Wedono Kalisalaktidak berhenti sampai disini , Dia menulis surat kepada Bupati Batang tertanggal 19 April 1859 No.1 A yang isinya diteruskan ke Karisidenan Pekalongan oleh bupati Batang pada tanggal 24 April 1859 No.29 . Inti surat tersebut isinya adalah sebagaimana bunyi surat yang pernah dikirim sebelumnya tertanggal 9 November 1858 No.578 dan 5 November 1858 No.700, mengigat belum juga mendapat perhatian dari Residen Pekalongan, maka diperjelas lagi dengan suratnya tertanggal 29 April 1859. Selain itu pada tanggal 30 April 1859Residen Pekalongan menulis surat kepada Buiten Zorg di Bogor yang isinya agar Kyai Haji Ahmad Rifai disidangkan ke pengadilan dan diasingkan dari Kalisalak. Pada tanggal 6 Mei 1859 secara resmi Haji Ahmad Rifai dipanggil Residen Pekalongan Franciscus Netscheruntuk pemeriksaan terakhir dan syarat untuk memenuhi pengasingan ke Ambon. Sejak tanggal 6 Mei 1859 Haji Ahmad Rifai sudah tidak diperkenankan kembali ke rumah lagi untuk menunggu keberangkatan pengasingan hingga tanggal 9 Mei 1859, berdasarkan surat keputusan No.35 tertanggal 19 Mei 1859 K.H. Ahmad Rifai meninggalkan jamaah beserta para keluarganya karena mulai hari itu dia diasingkan di Ambon,Maluku.

Setelah dua tahun Haji Ahmad Rifai di Ambon dia telah mengirim kitab sebanyak empat buah dalam bahasa Melayu dan 60 buah judul Tanbih berbahasa Melayu juga surat wasiat tertanggal 21 Dzulhijjah 1277 H kepada menantunya Kyai Maufura bin Nawawi di Keranggongan, Batang yang isinya agar para muridnya beserta keluarganya jangan sekali-kali taat pada pemerintah Belanda dan orang-orang yang berkolaborasi dengannya. Setelah di Ambon Haji Ahmad Rifai bersama Kyai Modjo dan 46 ulama lainnya dipindahkan ke kampung Jawa TondanoManadoSulawesi Utara karena ia bersama ulama-ulama Tarojumah menganggap perlu lahirnya organisasi Rifaiyah secara nasional , dan dia tinggal disana untuk menanti panggilan dari sang Robb, Dia wafat dengan tenang sebagai " Pahlawan Islam dan bukan Pahlawan Nasional" pada Kamis 25 Robiul Akhir 1286 H (usia 86 tahun) , ada riwayat lain yang mengatakan dia wafat pada 1292 H (92 tahun, semoga yang ini benar, karena itu berarti dia panjang umur) di kampung Jawa Tondono Kabupaten MinahasaManado Sulawesi Utara dan dimakamkan dikomplek makam pahlawan kiai Modjo disebuah bukit yang terletak kurang lebih 1 km dari kampung Jawa Tondano (Jaton).
   (dari berbagai sumber)
Share:

PROGRAM PDF AD-DAHLANIYYAH

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

KITAB KITAB

KITAB KITAB
karangan KH.Rois Yahya Dahlan dan putranya

Translate