Khusus pembelajaran Alqur'an beserta ilmu
Tajwid, qiro'ah, tahfidz (dengan metode menghafal),
serta tallaqi (mengaji di depan guru "berhadap-hadapan")
dengan memadukan Qiro'ah sab'ah menggunakan metode sab'ati, di ampu
langsung oleh pakar dan spesialis Al-quran.
Metode sab'ati adalah metode untuk membaca Qur'an, metode ini di susun oleh ustadz Irham Al-hafidz (pengampu spesialis Al-qur'an)
7 Imam beserta Perawinya, metode ini berisi tentang kaidah-kaidah
pembacaan masing-masing 7 Imam dan para Perawinya.
metode ini sangat mudah sekali untuk di pelajari, hanya dalam waktu
1 minggu kita bisa dapat menguasai dan bisa membaca Qur'an 7 Imam.
untuk informasi lebih jelas silahkan kunjungi fanspagenya
( Metode Sab'ati oleh ust.Ircham Al-hafidz )
Khusus pembelajaran bidang ushul fiqh, di tangani langsung oleh pengasuh (Ust.Zuhurul fuqohak)
pembelajaran ini mengaitkan segala macam disiplin ilmu, seperti Ulumul Quran, Ulumul Hadis, serta ilmu alat (nahwu, shorof, mantiq, balaghoh, tafsir, arudh, Dll) untuk pendalamanya
Khusus pembinaan santri yang bertargetkan pembenahan akhlak. Ilmu adalah praktek, lebih baik beramal dari pada berilmu tanpa amal.
Di asuh langsung oleh pakar akhlak dengan memadukan unsur tradisional dan modern. Di sini, santri juga akan di fokuskan untuk memperdalam dan mempelajari kitab-kitab yang membahas tentang adab, fiqih sosial, fiqih ibadah, dari berbagai karya-karya ulama seperti Syaikh Ahmad Rifa'i Al-jawi, Imam Ghozali, Imam Nawawi Al-jawi, dll.
Jaman sekarang masih takut mondok? karena nanti gak punya ijazah, di anggap kuper dan jadul.
tenang karena sekarang kementrian agama indonesia sudah menyelenggarkan PDF ( pendidikan dinniyah formal). dan yang lebih baiknya lagi ponpes miftahul ulum sudah resmi dan di akui oleh negara sehingga dapat menyelenggarakan PDF tingkat ulya atau setara dengan SMA/SMK, sehingga jika lulus mondok, nanti dapat ijazah yang di akui negara dan resmi,
(GEDUNG PDF lama)
Selain sudah resmi menyelenggarakan PDF, pondok pesantren miftahul ulum juga menyelenggarakan program paket A dan B, jadi gak usah takut untuk mondok,
apalagi kalau takut gak punya ijazah dan setelah lulus bingung gak punya ijazah, karena sekarang sudah ada solusinya.
ayo gak usah pikir panjang lagi, bulatkan tekad untuk bergabung dengan kami jadi santri miftahul ulum talun kayen pati.
Dr. A. Zayadi (kasubdit. Pendidikan Diniyah Kemenag RI)
Mengapa Pendidikan Diniyah Formal?
Jika mencermati layanan satuan pendidikan formal tingkat pendidikan
dasar dan menengah saat ini, negara kita hanya mengenal satuan
pendidikan formal: jenis pendidikan umum yang menjadi otoritas
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan jenis pendidikan umum berciri
khas Islam yang menjadi otoritas Kementrian Agama Cq: Direktorat
Pendidikan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.
Lulusan pendidikan murni (pure) baik dari sekolah (pendidikan
formal jenis pendidikan umum) maupun dari madrasah (pendidikan formal
jenis pendidikan umum berciri khas Islam) dengan tanpa ada ‘sentuhan’
pendidikan pesantren, dalam banyak hal oleh sebagian besar masyarakat
dinilai belum cukup mampu untuk melahirkan ahli di bidang ilmu agama
Islam (mutafaqqih fiddin). Materi agama (Islam) yang diajarkan
selama 2 hingga 3 jam pelajaran di sekolah dan materi agama Islam yang
diwujudkan dalam 5 (lima) mata pelajaran Al-Quran-Hadits, Fiqh,
Aqidah-Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab yang diajarkan
dalam beberapa jam pelajaran yang jauh lebih sedikit dibanding dengan
mata-mata pelajaran umum di madrasah, dengan tanpa mendapatkan layanan
pendidikan pesantren, itu dinilai belum mampu melahirkan lulusan yang
memiliki kapabilitas atau kompetensi ulama,mutafaqqihfiddin, ahli di
bidang ilmu agama Islam. Tegasnya, lulusan sekolah dan lulusan madrasah
secara murni tidak mampu menghasilkan kader ulama.
Pendidikan Diniyah Formal dan Kaderisasi Ulama
Kementerian Agama RI membuka ruang baru dan memberikan pilihan kepada
masyarakat untuk mendidik putera puterinya menjadi kader ulama melalui
layanan Pendidikan Diniyah Formal (PDF). Layanan PDF ini tunduk atas
Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan
Keagamaan Islam, yang merupakan turunan atas Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan,
yang merupakan implementasi dari Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional.
PDF merupakan salah satu dari entitas kelembagaan pendidikan keagamaan Islam yang bersifat formal untuk menghasilkan lulusan mutafaqqih fiddin
(ahli ilmu agama Islam) guna menjawab atas langkanya kader mutafaqqih
fiddin. Jenjang PDF dimulai dari jenjang pendidikan dasar, pendidikan
menengah hingga pendidikan tinggi. Jenjang pendidikan dasar ditempuh
pada PDF Ula selama 6 (enam) tahun, dan PDF Wustha selama 3 (tiga)
tahun. Jenjang pendidikan menengah ditempuh pada PDF Ulya selama 3
(tiga) tahun. Sedangkan jenjang pendidikan tinggi ditempuh pada Ma’had
Aly untuk program sarjana (S1), magister (S2), dan doktor (S3).
Kurikulum yang akan dikembangkan oleh PDF terdiri atas pendidikan umum
dan pendidikan keagamaan Islam berbasis kitab kuning (kutub al-turats).
Mata-mata pelajaran pendidikan umum hanya terdiri atas Pendidikan
Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan
Alam, serta untuk tingkat ulya ditambah dengan Seni dan Budaya,
sementara mata pelajaran keagamaan Islam hingga di tingga ulya meliputi:
Al-Qur’an, Tauhid, Tarikh, Hadist-Ilmu Hadits, Fiqh-Ushul Fiqh,
Akhlaq-Tasawuf, Tafsir-Ilmu Tafsir, Bahasa Arab, Nahwu-Sharf, Balaghah,
Ilmu Kalam, Ilmu Arudh, Ilmu Mantiq, dan Ilmu Falak yang semuanya
berbasis kitab dan berbahasa Arab. Jika diakumulasi beban mata-mata
pelajaran pendidikan keagamaan Islam setidaknya 75% dari seluruh beban
pelajaran, sementara beban mata-mata pelajaran pendidikan umum sekitar
25% dari seluruh beban pelajaran.
Disadari benar bahwa kehadiran PDF ini merupakan bagian implementasi
dari skenario besar untuk menjadikan pendidikan di Indonesia, khususnya
pesantren, sebagai destinasi pendidikan. Sebab, dalam konteks pendidikan
Islam secara global, harapan masyarakat dunia terhadap pendidikan Islam
masa kini dan masa depan itu berada di pundak Indonesia. Pasalnya,
seperti kita saksikan dalam gejolak sosial-politik dan perkembangan
keislaman di sejumlah negara muslim belakangan ini, terlebih di kawasan
Timur Tengah, kita patut menyayangkan terhadap gejolak tersebut yang
mengakibatkan pusat-pusat keislaman pun menjadi redup. Mesir, Libya,
Suriah, dan Yaman kini ditimpa musibah konflik yang hingga kini belum
usai.
Dalam konteks di atas, terdapat sejumlah alasan mengapa Indonesia menjadi pusat harapan pendidikan Islam dunia. Pertama,pemahaman Islam yang berkembang di Indonesia adalah pemahaman Islam yang rahmatanlil’alamin.
Islam yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,
menghargai hak-hak asasi manusia, menghormati ragam budaya dan kultur
masyarakat, mengidamkan kedamaian, keadilan, toleransi, dan sikap yang
keseimbangan (tawazun). Di tengah pelbagai perbedaan dan
keragaman sosio-kultural, agama, adat dan budaya, bahasa, dan lokalitas
dalam ribuan pulau serta lainnya, namun Indonesia tetap kekar dalam
bingkai persatuan dan kesatuan keindonesiaan. Ini menunjukkan pemahaman
keagamaan Islam yang berkembang adalah Islam yang damai, toleran, dan
menghargai segala bentuk perbedaan. Kedua, Indonesia bias menjadi harapan pusat pendidikan Islam
dunia oleh karena kita memiliki pondok pesantren. Pondok pesantren ini
memiliki konvidensi dan kekuatan yang luar biasa untuk menjadi corong
kepada masyarakat dunia. Tentu saja, nomenkaltur kelembagaan pendidikan
Islam lainnya bukan berarti tidak memiliki peran dan arti sama sekali,
tetapi dalam konteks ini cukup beralasan karena pondok pesantren
merupakan lembaga pendidikan Islam yang khas (genuin) Indonesia yang mampu menghasilkan intelektual muslim yang berkarakter rahmatanlil’alamin. Semoga.
Program Baru
1. Kejar Paket A dan B (Setara SD dan SMP)
2. Pendidikan Diniyah Formal (Setara SD,SMP,SMA)
3. Tahfidhul Qur`an
4. Sab`atii (Qiro`ah Sab`ah Tujuh Imam)
5. Murtadho-Qu (metode cepat baca kitab kuning)
6. Multilanguage Club (Pembelajaran dan Percakapan 4 Bahasa: Arab, Inggris, Indonesia, Kromo Inggil)